
Jumat (27/3) sebagian daerah Kota Tangerang Selatan sontak menjadi porak poranda. Situ yang biasanya memberikan keindahan dan kesejukan, kali ini ia menjadi sang penjemput maut. Situ Gintung salah satu Situ di Indonesia dan merupakan salah satu objek wisata di Ciputat jebol akibat tidak mampunya lagi menahan beban air yang tertampung. Dan sontak pemukiman di sekitarnya terterjang air bah dengan ketinggian 1-3 meter. Ketika pertanda akan jebolnya situ sudah di mulai pada dini hari, jam terus berlalu menit terus berganti dan akhirnya sang situ sudah tidak mampu lagi menahan beban dan memuntahkan seluruh isi yang terdapat di dalam situ tepat pada pukul 04.30 di mana sebagian oarang masih tertidur pulas. 78 orang tewas dan tidak sedikit pula rumah warga yang hancur bahkan hilang di terjang air bah yang mencapai 625 juta liter.
Bingung.... Takut...... Panik....
Itulah yang di rasakan warga yang terkena musibah tersebut.
Mereka panik mencari kesana kemari. Bukan mencari harta benda mereka!!!! Mereka mencari sanak saudara keluarga mereka yang mereka tahu.
Anak di rangkul erat oleh sang ibu.
Ayah menggendong anak dipundaknya.....
Sekeras tenaga mereka berusaha untuk meloloskan diri dari maut.
Mereka tak ingat pada harta... Yang mereka ingat hanyalah...
Dimana anak ku??
Dimana istri/suami ku???
Ibu Ayah ada dimana??
Tapi apa daya rumah penduduk yang lebih rendah dari pada situ tetap saja terterjang air bah. Bahkan rumah yang jauh beradius 1km pun tak luput dari terjangan air bah.
Anak-anak.......
Balita...
Orang tua....
Mereka adalah korban terbanyak akibat jebolnya tangul tersebut. Anak-anak dan orang lanjut usi yang renta dan lemah sedangkan anak balita yang tidak mengerti apa-apa.
Tuhan tidak pilih kasih, kaya, miskin, tua, muda mereka semua merasakan terjangan air bah tersebut.
Tragis..... Menyeramkan...
Situ yang sebesar dan sekokoh itu bisa hancur menerjang penduduk. Air pun marah kepada masusia......
Tuhan marah pada kita, manusia yang tidak pernah bersyukur...
Selalu menganggap semua itu kurang..
Dan alampun marah...
Situ layaknya kita manusia merawat, memelihara hewan kesayangan kita.
Menjaganya...
Memberinya makan dan minum...
Tidak menyakitinya...
Memberikan perawatan yang tebaik....
Dan begitu pula dengan situ....
Jadikan ini pembelajaran yang mahal untuk kita manusia. Jangan sampai hal ini terulang kembali. Ini terjadi karna mausia itu sendiri. Manusi yang lalai.
Alam MARAH dan Tuhan Pun MURKA . . . . .

haduh bebh.. gw bener mengucap syukur bgt sama Tuhan klo lbaca tulisan lo....
BalasHapusmakasih bgt kita udah kuliah di tempat yg mayan, pergi juga masih naek mobil, rumah juga aman2 aja....
huaa,,, hikz...hikz,,,,
wow... Itu emang bener" musibah ya.. Ibarat air bah kecil... My poor family outside there was suffering....
BalasHapus