Segala cara ia lakukan dengan penuh keringat mengusahakan bagaimana agar kami bisa terus makan dan aku serta adik bersekolah.
Satu persatu barang kesayangan papa ia jual untuk terus menafkahikan kami. Mamah pun hanya beberapa yang tahu dari apa yang sudah ia jual. Papa hanaya berkata pada ku
" Biar papa kerja dari pagi sampe malam, kaki jadi kepala, kepala jadi kaki biar kamu sama adik bisa terus sekolah. "
Aku hanya bisa tertunduk menangis pada saat itu, aku ngga tau apa yang harus aku lakukan.Aku orang satu-satunya di rumah yang selalu menunggu papa sampai pulang, ngga peduli jam berapa itu. Mamah memang menunggu, tetapi itu sambil terkantuk antuk dan terkadang tertidur. Aku tertidur 1x pun tidak, dan pasti tiap kali aku ingin mejamkan mata rasanya sulit.
Denagn kerja kerasnya perlahan kami membaik bahkan sangan membaik.
Hari itu hari Jum'at tahun 2007 tanggal dan bulannya aku lupa. Sepulang papa mengantar adik sekolah ia terkulai lemas. Seturunnya ia dari mobil ia mengeluhkan dadanya sakit kepada mamah. Sontak mamah membangunkan aku sambil teriak, panik dan bergegas pergi ke rumah sakit. Awalnya mamah menuju klinik di depan komplek rumah kami,karna itu untuk pertolonga pertama. Dokter mendiaknosa papa sakit jantung, akan tetapi peralatan kedokteran di sana kurang lengkap dan dokterpun menyarankan agar papa di bawa ke rumah sakit besar. Tanpa pikir panjang mamah membawa ke rumah sakit di daerah Jakarta Timur. Setelah melakukan cek up, iya, ia positif papa terkena penyakit jantung dan saat itu sedang mengalami serangan. Mamah memberitahu aku, dan aku yang tidak bisa mengendarai motor saat itupun dengan nekad mengendarai motor menjemput adik dan segera ke rumah sakit.
Papa lemas tergolak tak berdaya di ICU, tubuhnya penuh dengan alat-alat kedokteran. Hampir 2 hari ia tak sadarkan diri, setelah sadar aku lemas, senang, sedih, semuanya bercampur. Pulang lah papa ke rumah. Setelah sampai di rumah papa ternyata masih suka terkena serangan, dan untuk bernafas pun sulit harus di bantu dengan oksigen. Tabung oksigen pun kosong setelah pemakaian 5 jam.
Ada saatnya tengah malam, aku dan adik harus berlari mengisi ulang oksigen, dan alhamdullilah nya itu ada di dekat rumahku. 2 minggu ia mengalami hal seperti itu. Tiap kali papa kumat aku hanya bisa menangis, solat pun aku menangis. Akhirnya mamah memutuskan untuk membawa papa ke rumah sakit jantung di daerah Jakarta Barat. Seminggu ia di cek segalanya dan iya ternyata ke 4 pembuluh darah jantung papa sudah 99% tersumbat lemak, dan harus di lakukan oprasi. Ok mamah beserta keluarga yang laipun setuju. Kamis pada saat itu, dari jam 9 pagi papa masuk ruang oprasi dan selesai pukul 4 sore. Saat itu aku berada di kampus, karna memang mamah ngga ngijinkanku untuk bolos. Oprasi lancar semua baik, 1 minggu papa di rumah sakit. Dokter membolehkan ia pulang. Dan syukur Alhamdullilah ia sehat sampai saat ini.
Semenjak kejadian itu aku tahu bagai mana perjuangan papa membanting tulangnya hingga ia sakitpun tidak dirasakan. Ia terus usahakan bagaimana agar keluarganya bisa terus melanjutkan hidup dan anaknya terus sekolah.
Papa mutia sayang bgdh m papa......

that's sweet mut...
BalasHapus